Childfree: Apa Itu dan Mengapa Dia Begitu

Impian Nopitasari mengutip Victoria Tunggono tentang perbedaan childfree dan childless. Dalam tulisannya dikatakan, childfree didefinisikan sebagai pilihan sadar seseorang untuk tidak punya anak, bukan karena takdir seperti childless atau kondisi yang tidak memungkinkan seseorang untuk punya anak.

Diskursus childfree sudah lama muncul. Menurut Chrastil dalam buku How to be Childless, kemunculannya di Eropa sejak tahun 1500 sekian. Meski begitu, peningkatan populasi penganut childfree mulai terlihat pada sekitar tahun 1900, saat muncul diskursus pengendalian kelahiran dengan kontrasepsi.

Bahkan diskursus childfree punya tempat tumbuh dan berkembang di Indonesia. Dilansir Narasinewsroom, komunitas childfree di Indonesia sudah terbentuk sejak 2016 dan punya sekitar 300 anggota. Komunitasnya bernama Childfree Life Indonesia.

Diskursus childfree tidak muncul dari ruang hampa. Ada alasan-alasan yang mendasari diskursus itu terbentuk dan orang-orang menjadi penganut. Berdasarkan buku Corinne Maier berjudul No Kids: 40 Reasons For Not Having Children, Victoria Tunggono mengklasifikasi alasan penganut childfree, yaitu alasan pribadi, psikologis dan medis, ekonomi, filosofi, dan lingkungan hidup.

Bila menilik pengalaman orang-orang sekitar, memang ada kondisi yang memungkinkan seseorang menjadi childfree atau childless. Tidak jauh dari yang diklasifikasi Victoria Tunggono, terutama psikologis dan medis. Ada orang-orang yang berpotensi punya anak, tapi tumbuh dari dan bersama pengalaman kurang menyenangkan, berkaitan dengan pengasuhan.

Dengan adanya pengalaman itu dan orang terkait belum mampu mengatasinya, maka bukan tidak mungkin akan memilih childfree daripada menularkan pengalaman itu ke anaknya. Hal itu tentu sulit dipahami orang yang sudah kuat secara mental tapi belum diberi izin Allah untuk mengandung dan mengasuh anak biologis.

Ada juga penganut childfree karena tidak ingin anaknya lahir dan tumbuh dalam ‘kemiskinan’. Padahal mereka punya gaji tapi harga kebutuhan turut naik sehingga muncul kekhawatiran akan ketidakmampuan memenuhi kebutuhan anak. Pada akhirnya, orang tua akan merasa bersalah karena tidak bisa memberi kondisi baik bagi anaknya.

Alasan itu tentu bisa dibantah, karena adanya perbedaan kondisi. Satu orang sudah di tahap tertentu dan kemungkinan besar bisa mengatasi masalah terkait, sedangkan orang lain ada di tahap hidup yang berbeda. Perlu diingat bahwa lingkungan dan masalah di dalamnya juga berkontribusi dalam pembentukan pilihan hidup.

Pada praktiknya, kritik atau sekadar nyinyir dari pihak lain selalu ada di setiap pilihan hidup seseorang. Tri Rejeki Andayani, Psikolog Sosial dari Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) menyarankan agar pasangan suami-istri mendiskusikan kemungkinan akan childfree itu bersama orang tua dan mertua.

Sebab orang tua dari suami-istri itu tentu memiliki harapan pada pernikahan anaknya, salah satunya adalah punya cucu yang meneruskan keturunannya, terangnya di laman UNS.

Sebuah saran yang baik, menurut saya. Dalam hidup dan berumah tangga, tidak hanya ada suami maupun istri, tapi juga ada orang tua dan mertua. Meski dari diskusi ada kemungkinan kurang didukung dan bisa jadi tekanan tambahan, tetap akan ada peluang hasil positif, hasil yang mendukung keputusannya untuk childfree. Dengan ada dukungan dari lingkungan keluarga, maka pasangan — khususnya perempuan — akan punya daya lebih ketika harus mendengar stigma atau pembicaraan yang memekakkan telinga dari masyarakat luas.

Apakah perempuan tidak berhutang penjelasan terhadap pilihan hidupnya, terutama berkaitan dengan kesadaran otoritas tubuh?

Ada yang mengatakan, perempuan tidak perlu menjelaskan alasan memutuskan childfree. Dalam hal itu, memberi penjelasan dipandang sebagai bagian dari budaya patriarki. Pemikiran perempuan seakan dikekang dan dikendalikan budaya.

Padahal manusia merupakan makhluk individu sekaligus sosial. Artinya, memberi penjelasan mengenai pilihan hidupnya adalah hal baik. Pusat perhatiannya adalah orang-orang yang tepat untuk diberi penjelasan, karena tidak semua orang harus tau alasan pilihan hidup seseorang.

Mari perhatikan batas ranah privasi dan publik dengan bijak.

mendaki intelektualitas, dan menyelami spiritualitas

mendaki intelektualitas, dan menyelami spiritualitas